Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MENJADI HAMBA YANG BERSYUKUR ATAS NIKMAT ALLAH

 




Khutbah Pertama


Muqaddimah 


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.


أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّاىَ الْمُقَصِّرَةَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.


أما بعد، فيا أيها الحاضرون رحمكم الله،



Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hari ini kita akan membahas satu tema agung, yaitu bersyukur atas nikmat Allah. Syukur adalah akhlak mulia yang menjadi sebab bertambahnya nikmat, serta menjadi pembeda antara orang beriman dan orang kafir.


Allah berfirman:


 وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ


“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian, tetapi jika kalian kufur (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)


Ayat ini menegaskan dua hal penting: syukur menambah nikmat, sedangkan kufur mendatangkan azab.


Rasulullah bersabda:


 انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ


“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, janganlah melihat kepada yang di atas kalian, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR. Muslim)


Jamaah rahimakumullah,

Syukur memiliki tiga dimensi:

  1. Syukur dengan hati → menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah, bukan hasil kekuatan diri.
  2. Syukur dengan lisan → memperbanyak hamdalah, doa, dan pujian kepada Allah.
  3. Syukur dengan amal → menggunakan nikmat untuk taat, bukan maksiat.

Contohnya: diberi nikmat mata, gunakan untuk membaca Al-Qur’an, bukan melihat maksiat. Nikmat telinga, gunakan untuk mendengar kebaikan, bukan mendengarkan ghibah atau gosip. Nikmat harta, gunakan untuk zakat, infak, dan menolong sesama, bukan foya-foya dalam kemaksiatan.


Bahaya kufur nikmat sangatlah besar. Betapa banyak negeri yang Allah hancurkan karena warganya kufur nikmat. Betapa banyak manusia yang awalnya hidup berkecukupan, lalu jatuh miskin, karena tidak pandai bersyukur.


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Setiap hari kita menerima ribuan nikmat, tetapi sedikit sekali yang benar-benar kita syukuri. Nikmat sehat, waktu luang, rezeki, keluarga, bahkan nikmat iman dan Islam, semua itu lebih berharga dari dunia dan seisinya.


Rasulullah ﷺ bersabda:


 نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ


“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)


Maka, janganlah kita tertipu. Mari kita isi hidup ini dengan syukur, sebab syukur adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.


اَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.




Khutbah Kedua



اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Bersyukur bukan hanya diucapkan di lisan, tetapi harus terwujud dalam sikap hidup.


Seorang hamba yang benar-benar bersyukur akan tampak dari:

  1. Sabar dalam kesulitan → sebab sabar adalah bagian dari syukur.
  2. Rendah hati dalam kelapangan → tidak sombong meski kaya dan berkuasa.
  3. Dermawan → karena ia tahu hartanya adalah titipan Allah.
  4. Rajin beribadah → karena ia ingin menunjukkan terima kasihnya kepada Allah.

Jangan sampai kita termasuk orang yang kufur nikmat. Ingatlah firman Allah :


 وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ


“Dan Allah membuat perumpamaan: sebuah negeri yang dahulunya aman tenteram, rezekinya datang melimpah dari segala tempat. Namun mereka kufur terhadap nikmat Allah, maka Allah menimpakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan akibat perbuatan mereka sendiri.” (QS. An-Nahl: 112)


Jamaah Jumat,

Mari kita bersyukur dengan memperbanyak shalat, zakat, infak, serta membantu sesama. Jangan sampai kita diberi nikmat waktu, namun habis untuk hal yang sia-sia. Jangan sampai diberi nikmat kesehatan, namun dipakai untuk bermaksiat.


Rasulullah sendiri adalah manusia paling bersyukur. Dalam sebuah riwayat, beliau shalat malam sampai kakinya bengkak. Ketika ditanya, “Wahai Rasulullah, bukankah engkau sudah diampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab:


 أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا


“Apakah tidak pantas aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Bukhari & Muslim)


Maka, mari kita teladani beliau dengan memperbanyak syukur.




اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.


اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الشَّاكِرِيْنَ، الْمُوَفَّقِيْنَ، الْمُحْسِنِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِيْنَ الْمُعْرِضِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا وَأَوْلَادِنَا وَأَهْلِينَا.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.




===

Khutbah Jumat, Agustus 2025


Posting Komentar untuk "MENJADI HAMBA YANG BERSYUKUR ATAS NIKMAT ALLAH"